Puisi Keramik (haiku yang lara)

Lantai Kotak Susun

Mentari diizinkan utuk enyah dari hadapannya
Mengurai banyak halau dicelah celah cahaya
Inginnya selalu malam, tapi maunya segera tidur

Bekas jejak masih rapi mengembun
Diarsirnya dengan terus menggoresnya dengan air mata
Kini motifnya tidak ada yang suka
Kusam dan nampak berkarat

Bangun lalu membuang air,
Didapati hinaan
Lalu meninju wadah nasi
Kembali menyendiri
Mengumpulkan dendam
Benci benci benci.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.