KETIK SUBUH 22th/20

Kuceritakan saja, sekilas.
Diulangtahunku.
Merangkum tahun nya.

Bersama teman yang paling aku sayang, sahabat yang selalu menemaniku, kekasih yang terus membuat aku tetap hidup. 
SANG MALAM, Ratri.

Ratri" yang membuat aku merasa nyaman dalam harfiah keadaan nampaknya terus saja aku lewati dengan tetapenjaga mata agar tidak tertidur supaya aku bisa melihat Ratri yang aku tunggu.

Wati dalam pengewajentahan Ratri makna akhir yang aku inginkan. Belum kunjung juga memperlihatkan seisi tubuhnya.

Berjalan dengan indah, kuberanikan mengklaim Ratri yang akan aku jadikan Wati.

Kala itu aku bertemu dengan keadaan menggebu, sudah saatnya kataku.
Kepercayaan dan firasatku telah menambah keyakinan terhadap suasana suasana itu.


Dia duduk dengan menceritakan apa yang aku tanyakan, kami mulaintersipu tatkala kentut" kita saling bunyi mengirama membentuk nada yang sampai saat ini masih kuabadikan suasananya.


Ratri ini akan selalu kuceritakan, kabarkan dan abadikan.


Sempat singkat dimana ratriku tidak pada apa yang aku haruskan seperti Wati keinginanku.

Apakah aku terus mencintai Ratri ?
Dialah Ratri yang belum bisa aku gapai,
Aku masih pada tataran pengharapan.
Belum akhliku untuk bisa mendeklarasikan kemenanganku.
Dia nampak nyata dan sempurna.
Dia nampak indah dan aku yang harus menyeimbangkan keindahan itu.


Sempat dimana sebuah permasalahan muncul, 

Dia adalah bunga bekas pelataran istana megah milik kawanku yang walau kita tak saling kenal, bagiku dia adalah mungsuh.

Rasanya ingin sekali membunuh mereka tatkala ada waktu aku melihat kedua piranti itu kembali baris di sebuah kursi panjang kepunyaan peracik teh atau minuman lainnya.

Sempat mata ini berkaca lalu pergi ke ujung ujung dunia,
Mulai menyusul mereka ke neraka, sampai menginap disebuah desa kawanku yang aku ceritakan musabab aku meneteskan air air mata.


Waktu itu, aku bagaikan bangkai yang mencintai mayat hidup.
Diam
Diam
Diam
Tak ada bunyi apapun, dia masih saja Ratri.
Watiku kemana?
Aku ingin Wati!
Ternyata aku belum bisa jadi istilah kesukaan Ratri.


Ratri kelasnya atas.


/Apalah daya istilah yang belum aku deklarasikan ini.

Waktu itu tangis tersedu dan iringan lagu lawas nampak berkecambuk diperjalanan, menghabiskan keringat ibu, membeli asap dan banyak hal yang menjijikkan terjadi.
Aku juga sempat bertarung dengan Tuhan, kupukul keras kemanusiaan yang aku miliki menjadi iblis yang sempat ingin merekah diasupan sang raja aku.


Pada suatu ketika aku mulai merenungkan kegagalan, kubulatkan kokoh untuk menyerah, pasrah dan berharap ada maaf dari Ratri.
Menganggap aku benar.


Ternyata,
Rasa itu semakin besar,
Harapnya padaku semakin ditampakkan, walau tetap kucurigai.



AKU SUDAH DIANGAP PEMBUAL
yasudah Ratri memang seperti itu, dia layak dipuja puji.

Kuyakinkan diriku sendiri dengan menyerah,
Lalu muncul hidayah untuk membuat keadaan lebih baik.
Berkesinambungan dengan petak keramik didalam ruang neraka kamar, 
Hariku semakin sakit didada,

Binggung dan susah mendengar bentuk ocehan ocehan.

Kalut dan gusar, apa yang harus terjadi lagi?

Ratriku?
Kau harus tau betapa aku menyayangi,
Tetapi bagaimanapun wadakku belom sesempurna layak untuk khayal dihadapanmu.


Doaku semoga tuhan membuat sebuah hal yang bisa menyelesaikan keinginanku.

TUHAN JADIKANLAH RATRI WATI
KALO DIA TIDAK MEWATI,
KIRIMKAN AKU WATI YANG RATRI.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.